Hari Jum’at aku punya janji dengan seseorang yang akan mengajariku cara menyablon kaos. Malam sebelum hari-H intensitas sms antara aku dan orang. tersebut semakin rapat. Malam itu aku tidur memeluk angan esok pagi aku bisa menyablon kaos.
Tapi untuk bisa menyablon kaos, orang ternyata harus menjalani banyak pelatihan. Paling tidak, harus tahu. dasar-dasar penyablonan, harus tahu meski secara teoretis cara menyablon kertas dan plastik.
Hal ini aku ketahui setelah esoknya aku bertemu dengan orang yang janji mengajariku cara menyablon kaos.
Pagi itu seperti biasa aku bangun didekap istri tercinta. Aroma apak keteknya yang tak berbulu membuatku terjaga dengan cara yang nikmat. Ini hari Jum’at! Memoriku kembali cepat. Hari aku sudah punya janji diajari cara menyablon kaos.
Kukecup pipi istriku sekilas kilat dan ia menggeliat. Kelopak matanya terbuka lamat-lamat, perlahan, pelan-pelan, menatapku . Lalu bibirnya sedikit terbuka menyebut kata cinta. Ingin rasanya melumat. Tapi ini hari Jum’at. Dan aku sudah punya janji diajari cara menyablon kaos.
Melihat bibirku tak kunjung menghampiri bibirnya, istriku mengalihkan pandang pada kedua mataku, yang terus terpana memandang kedua matanya. Dan melihat sorot bimbang yang menyelip di kedip mataku, ia jadi ingat ini hari Jum’at. Hari di mana aku sang suami punya janji diajari cara menyablon kaos.
Ia mengulum senyum maklum, lalu berbisik, “Sana cepat salat, sayang. Lalu mandi. Jam enam pagi kau harus segera berangkat ke rumah orang yang janji mengajari cara menyablon kaos.”
***
Aku belum pernah bertemu dengannya. Adalah seorang kawan yang memberiku nomor kontaknya. Katanya ia telah menghubunginya dan mengatakan bahwa ada yang ingin diajari cara menyablon kaos. Katanya ia bersedia. Katanya ia menyarankan si yang ingin belajar langsung saja mengontaknya. Lalu aku diberi sederet nomor oleh kawanku. Lalu kutulis di telepon genggam sebaris kata salam ingin belajar kutujukan pada nomor tersebut. Lalu kami, aku dan yang janji mengajari cara menyablon kaos, mulai kontak-kontakan. Menyocokkan waktu senggang. Lalu janjian. Hari Jum’at ketemuan.
Rumahnya di pinggir kota. Perempatan Mondoteko, ke barat, lalu ada SD Impres, masuk gang ke selatan. Lurus, ada balai desa berseberangan dengan gereja tua. Rumahnya di belakangnya.
Mudah mengikuti petunjuk arah yang diberikannya padaku. Tapi tiba di gereja tua yang berseberangan dengan balai desa, aku celingukan sambil berkata dalam kepala, mana rumahnya? Di belakang gereja? Tak ada apa-apa di sana. Cuma sawah yang telanjang tanah.
Kukeluarkan telepon genggam dan kuketik kalimat tanya. Selang sejeda ada jawab tiba: “Rumahku di balik rumpun bambu setelah sawah setelah gereja, mas Joan. Tapi tunggu saja di depan gereja. Biar aku ke sana.”
Dan aku menunggu. Yang kutunggu tak berapa lama lalu muncul dari balik perdu.
Ia sudah senja. Tak sedikit uban menghias kepalanya. Jalannya biasa saja. Ia berkaos oblong putih bertulis kalimat Allah Siji. Celananya jean pudar. Melihatku bersikap menunggu dan menatapnya, segera ia tahu akulah yang hendak belajar menyablon kaos itu.
Begitu ia sampai pada jarak dengar dariku, segera kusapa dia, “Pak Jakup?”
Yang kusapa balik bertanya, “Mas Joan?”
Sebenarnya aku mengira orang yang akan mengajariku cara menyablon kaos adalah sesama anak muda. Dua puluh lima-an, lah. Kuperkirakan umur ini dari nada kalimatnya dalam sms-sms yang ia kirim. Nadanya muda. Nadanya seperti masih sedang mencari-cari. Nadanya tegas, intonasinya gegas, gayanya lugas; khas anak muda yang selesai remaja. Perkiraanku terbukti salah. Aku lalu meralat cara panggilku untuknya. Dalam sms dia kupanggil mas. Saat tatap muka dia kuganti sebut pak.
“Maaf mas harus menjemput saya di rumah. Saya tidak ada kendaraan,” katanya berbasi.
“Ah, tidak masalah, pak,” jawabku juga berbasi.
“Usaha sablon tidaklah menjanjikan. Saya saja pindah ke gipsen,” sambungnya.
Saya tidak bisa menemukan kata-kata tuk menimpali.
Pak Jakup maka mengulangi, “Saya saja pindah ke gipsen.”
“Saya ingin belajar menyablon kaos, pak,” kataku.
“Ya, ya. Itu gampang. Asal punya jiwa seni. Tapi harus sabar… Butuh waktu. Apalagi mas tak punya dasar penyablonan. Nanti saya ajari. Gampang,” katanya.
“Bisa mulai kapan, pak Jakup?” Tanyaku.
“Terserah. Sekarang juga bisa. Tapi cuma hari Jum’at, ya, mas. Hari lain saya kerja,” jawabnya.
“Tak masalah, pak Jakup!” Kataku terlalu bersemangat.
“Nah, sekarang kita ke toko Ana yang berada di pasar kota. Di sana peralatan sablon lengkap. Hari ini perkenalan peralatan dan bahan-bahan sablon dulu. Ayo,” ajaknya.
Aku menghidupkan mesin motor.
***
Di atas motor dalam perjalanan pak Jakup bertanya, “Mas Joan kenapa pengen belajar nyablon?”
“Pengen bisa, pak!”
“Untuk apa?”
“Nyablon kaos, pak!”
“Mas Joan sekarang kerja apa?”
“Pengangguran, pak!”
“Sudah berkeluarga?”
“Sudah, pak! Baru tiga bulan ini! Pengantin baru saya, pak! Saya dapat orang Jawa Timur! Cantik luar biasa dia, pak! Saya cinta mati sama dia, pak!”
“Usaha sablon tidak bisa diandalkan, mas Joan.. Tidak mendatangkan keuntungan! Semua disikat sama mesin! Sablon kertas, sablon kaos, semuanya mesin sekarang! Tinggal sablon plastik yang kadang order datang.. Mas Joan cari usaha lain saja!”
“Saya ingin bisa sablon kaos, pak Jakup!”
***
Entah pak Jakup memang ingin memberiku saran atau dia sedang menguji kesungguhan. Tapi hari ini kudedikasikan untuk satu tujuan: belajar menyablon kaos.
Kami semakin dalam masuk ke kota. Lurus menuju pasarnya. Motor kukendara tak pelan tapi juga tak kencang, sengaja membuat kesempatan kami bisa berbincang.
“Apa saja yang harus saya persiapkan untuk menyablon kaos, pak Jakup?” Tanyaku.
“Ya apa, ya?” Gumam jawab pak Jakup kurang jelas disapu angin.
“Ada meja, untuk menyablon. Skrin sama rakel. Itu saja sih..” Sambungnya.
Helm yang kupakai mengangguk-angguk, meski kepala di dalamnya tidak tahu apa itu skrin dan rakel. “Bahan-bahannya, pak Jakup?” Sambung tanyaku.
“Ada tiga bahan, mas Joan. Untuk bikin filem, untuk mencetak, dan bahan yang mau dicetak, kira-kira begitu,” jawab pak Jakup.
Helm yang kupakai kembali mengangguk-angguk. Tapi sepertinya pak Jakup tahu bahwa kepala yang ada di dalamnya tak begitu tahu apa yang baru saja ia utarakan. Maka ia sambung kata, “Nanti, mas Joan, kalau sudah sampai di toko, saya perlihatkan perlengkapan dan bahan-bahannya. Lebih mudah kalau melihat sendiri.”
Helm yang kupakai sekali lagi mengangguk-angguk. Kali ini lebih tegas.
“Nanti juga langsung praktik saja. Mulai dari sablon kertas, plastik, lalu kaos. Kalau cuma teori tak ada gunanya. Kalau sudah bisa sablon kartu nama yang hurufnya kecil-kecil, sablon apa saja pasti bisa,” kata pak Jakup.
Aku hendak mengangguk-anggukkan lagi helm yang kupakai, saat kedua mataku tiba-tiba melihat sebuah pemandangan menakjubkan terhampar di kejauhan: asap raksasa.
Pak Jakup, begitu menyadari kehadiran asap di kejauhan, juga terdengar tergetar. “Apa itu?” Tudingnya ke depan.
Pertanyaannya jelas ditujukan padaku. Tapi aku yakin dia tak menunggu, mengharap, atau menghirau jawab.
***
Seperti permulaan segala sesuatu, asap itu awalnya tampak kecil. Namun asap itu makin menggendut dan membumbung tanpa banyak buang waktu dan tanpa banyak cingcong. Perwujudannya yang raksasa jelas mengabarkan bencana.
Aku, pak Jakup, dan siapa pun yang melihatnya terpana. Tak sadar kupinggirkan kendaraan. Melihat tatap dan raut mukaku yang terpaku-pana pada sesuatu di kejauhan, para pengguna jalan yang melaju berlawan arah denganku ikut menoleh. Dan mereka pun melihat asap, yang tak mungkin muncul dari kobaran api yang tak besar.
Suasana pun jadi tak biasa. Orang-orang mulai ribut, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seorang pengendara motor menyalipku dengan kecepatan tinggi, seperti tergesa-gesa. Keadaan membuat aku, pak Jakup, dan semuanya saja menjelma menjadi satu kesatuan massa kecil yang terpana, yang tertegun, yang ingin tahu apa yang terjadi, yang bergairah menduga-duga.
Lalu seseorang, entah siapa, menghembuskan berita pada tiap telinga yang mampu menangkap getar suaranya, “Pasar terbakar!”
***
Motor kuparkir di halaman rumah warga sekitar dua ratusan meter dari pasar. Aku dan pak Jakup kemudian jalan berdesakan dengan orang-orang lain menuju pasar yang sedang berkobar.
Saat kami sampai, jalanan di sekitar pasar sudah ramai. Penuh sesak oleh orang. Kami kesulitan menerobos kerumunan. Untung pak Jakup sigap mencari jalan. Sikutnya bekerja mengayun ke kiri dan ke kanan.
Pasar kota terdiri dari sebuah bangunan kios berlantai dua yang melingkar kotak. Di tengahnya berjajar empat deret los yang memanjang berhadap-hadapan. Tiga ratus kios, tujuh ratus los. Tempat ribuan orang menyandarkan penghidupannya, menggantungkan kesehariannya.
Kini semua itu sedang dilalap api. Aku menyaksikannya sendiri. Api ada di semua sisi bangunan pasar, atau yang dulu, atau yang baru saja, merupakan bagian dari bangunan pasar. Lantai, tembok bata, tembok kayu, langit-langit kios, kolong los, atap genteng, atap seng, semuanya. Dan barang dagangan. Aneka macam barang dagangan.
Api seperti naga yang turun dari langit, tiba-tiba lapar, kepala dan perutnya bergoyang-goyang, mulutnya mencaplok pasar, buntutnya masih di awang-awang, bergelantungan, mengibas-kibas, mengeluarkan gumpalan asap raksasa yang kemudian berkumpul di atas sana membentuk awan kelabu.
Orang-orang hiruk pikuk. Para pemilik kios dan lapak dan los pasar, bersama kuli-kulinya dan kenalannya dan siapa saja, panik. Yang kiosnya di pinggir pasar tampak sibuk menyelamatkan barang-barang dagangannya. Sementara mereka yang lapaknya di dalam pasar tampak keluar-masuk api yang melalap pintu gerbang.