Asap

Hari Jum’at aku punya janji dengan seseorang yang akan mengajariku cara menyablon kaos. Malam sebelum hari-H intensitas sms antara aku dan orang. tersebut semakin rapat. Malam itu aku tidur memeluk angan esok pagi aku bisa menyablon kaos.

Tapi untuk bisa menyablon kaos, orang ternyata harus menjalani banyak pelatihan. Paling tidak, harus tahu. dasar-dasar penyablonan, harus tahu meski secara teoretis cara menyablon kertas dan plastik.

Hal ini aku ketahui setelah esoknya aku bertemu dengan orang yang janji mengajariku cara menyablon kaos.

Pagi itu seperti biasa aku bangun didekap istri tercinta. Aroma apak keteknya yang tak berbulu membuatku terjaga dengan cara yang nikmat. Ini hari Jum’at! Memoriku kembali cepat. Hari aku sudah punya janji diajari cara menyablon kaos.

Kukecup pipi istriku sekilas kilat dan ia menggeliat. Kelopak matanya terbuka lamat-lamat, perlahan, pelan-pelan, menatapku . Lalu bibirnya sedikit terbuka menyebut kata cinta. Ingin rasanya melumat. Tapi ini hari Jum’at. Dan aku sudah punya janji diajari cara menyablon kaos.

Melihat bibirku tak kunjung menghampiri bibirnya, istriku mengalihkan pandang pada kedua mataku, yang terus terpana memandang kedua matanya. Dan melihat sorot bimbang yang menyelip di kedip mataku, ia jadi ingat ini hari Jum’at. Hari di mana aku sang suami punya janji diajari cara menyablon kaos.

Ia mengulum senyum maklum, lalu berbisik, “Sana cepat salat, sayang. Lalu mandi. Jam enam pagi kau harus segera berangkat ke rumah orang yang janji mengajari cara menyablon kaos.”

***

Aku belum pernah bertemu dengannya. Adalah seorang kawan yang memberiku nomor kontaknya. Katanya ia telah menghubunginya dan mengatakan bahwa ada yang ingin diajari cara menyablon kaos. Katanya ia bersedia. Katanya ia menyarankan si yang ingin belajar langsung saja mengontaknya. Lalu aku diberi sederet nomor oleh kawanku. Lalu kutulis di telepon genggam sebaris kata salam ingin belajar kutujukan pada nomor tersebut. Lalu kami, aku dan yang janji mengajari cara menyablon kaos, mulai kontak-kontakan. Menyocokkan waktu senggang. Lalu janjian. Hari Jum’at ketemuan.

Rumahnya di pinggir kota. Perempatan Mondoteko, ke barat, lalu ada SD Impres, masuk gang ke selatan. Lurus, ada balai desa berseberangan dengan gereja tua. Rumahnya di belakangnya.

Mudah mengikuti petunjuk arah yang diberikannya padaku. Tapi tiba di gereja tua yang berseberangan dengan balai desa, aku celingukan sambil berkata dalam kepala, mana rumahnya? Di belakang gereja? Tak ada apa-apa di sana. Cuma sawah yang telanjang tanah.

Kukeluarkan telepon genggam dan kuketik kalimat tanya. Selang sejeda ada jawab tiba: “Rumahku di balik rumpun bambu setelah sawah setelah gereja, mas Joan. Tapi tunggu saja di depan gereja. Biar aku ke sana.”

Dan aku menunggu. Yang kutunggu tak berapa lama lalu muncul dari balik perdu.
Ia sudah senja. Tak sedikit uban menghias kepalanya. Jalannya biasa saja. Ia berkaos oblong putih bertulis kalimat Allah Siji. Celananya jean pudar. Melihatku bersikap menunggu dan menatapnya, segera ia tahu akulah yang hendak belajar menyablon kaos itu.

Begitu ia sampai pada jarak dengar dariku, segera kusapa dia, “Pak Jakup?”

Yang kusapa balik bertanya, “Mas Joan?”

Sebenarnya aku mengira orang yang akan mengajariku cara menyablon kaos adalah sesama anak muda. Dua puluh lima-an, lah. Kuperkirakan umur ini dari nada kalimatnya dalam sms-sms yang ia kirim. Nadanya muda. Nadanya seperti masih sedang mencari-cari. Nadanya tegas, intonasinya gegas, gayanya lugas; khas anak muda yang selesai remaja. Perkiraanku terbukti salah. Aku lalu meralat cara panggilku untuknya. Dalam sms dia kupanggil mas. Saat tatap muka dia kuganti sebut pak.

“Maaf mas harus menjemput saya di rumah. Saya tidak ada kendaraan,” katanya berbasi.

“Ah, tidak masalah, pak,” jawabku juga berbasi.

“Usaha sablon tidaklah menjanjikan. Saya saja pindah ke gipsen,” sambungnya.

Saya tidak bisa menemukan kata-kata tuk menimpali.

Pak Jakup maka mengulangi, “Saya saja pindah ke gipsen.”

“Saya ingin belajar menyablon kaos, pak,” kataku.

“Ya, ya. Itu gampang. Asal punya jiwa seni. Tapi harus sabar… Butuh waktu. Apalagi mas tak punya dasar penyablonan. Nanti saya ajari. Gampang,” katanya.

“Bisa mulai kapan, pak Jakup?” Tanyaku.

“Terserah. Sekarang juga bisa. Tapi cuma hari Jum’at, ya, mas. Hari lain saya kerja,” jawabnya.

“Tak masalah, pak Jakup!” Kataku terlalu bersemangat.

“Nah, sekarang kita ke toko Ana yang berada di pasar kota. Di sana peralatan sablon lengkap. Hari ini perkenalan peralatan dan bahan-bahan sablon dulu. Ayo,” ajaknya.

Aku menghidupkan mesin motor.

***

Di atas motor dalam perjalanan pak Jakup bertanya, “Mas Joan kenapa pengen belajar nyablon?”

“Pengen bisa, pak!”

“Untuk apa?”

“Nyablon kaos, pak!”

“Mas Joan sekarang kerja apa?”

“Pengangguran, pak!”

“Sudah berkeluarga?”

“Sudah, pak! Baru tiga bulan ini! Pengantin baru saya, pak! Saya dapat orang Jawa Timur! Cantik luar biasa dia, pak! Saya cinta mati sama dia, pak!”

“Usaha sablon tidak bisa diandalkan, mas Joan.. Tidak mendatangkan keuntungan! Semua disikat sama mesin! Sablon kertas, sablon kaos, semuanya mesin sekarang! Tinggal sablon plastik yang kadang order datang.. Mas Joan cari usaha lain saja!”

“Saya ingin bisa sablon kaos, pak Jakup!”

***

Entah pak Jakup memang ingin memberiku saran atau dia sedang menguji kesungguhan. Tapi hari ini kudedikasikan untuk satu tujuan: belajar menyablon kaos.

Kami semakin dalam masuk ke kota. Lurus menuju pasarnya. Motor kukendara tak pelan tapi juga tak kencang, sengaja membuat kesempatan kami bisa berbincang.

“Apa saja yang harus saya persiapkan untuk menyablon kaos, pak Jakup?” Tanyaku.

“Ya apa, ya?” Gumam jawab pak Jakup kurang jelas disapu angin.

“Ada meja, untuk menyablon. Skrin sama rakel. Itu saja sih..” Sambungnya.

Helm yang kupakai mengangguk-angguk, meski kepala di dalamnya tidak tahu apa itu skrin dan rakel. “Bahan-bahannya, pak Jakup?” Sambung tanyaku.

“Ada tiga bahan, mas Joan. Untuk bikin filem, untuk mencetak, dan bahan yang mau dicetak, kira-kira begitu,” jawab pak Jakup.

Helm yang kupakai kembali mengangguk-angguk. Tapi sepertinya pak Jakup tahu bahwa kepala yang ada di dalamnya tak begitu tahu apa yang baru saja ia utarakan. Maka ia sambung kata, “Nanti, mas Joan, kalau sudah sampai di toko, saya perlihatkan perlengkapan dan bahan-bahannya. Lebih mudah kalau melihat sendiri.”

Helm yang kupakai sekali lagi mengangguk-angguk. Kali ini lebih tegas.

“Nanti juga langsung praktik saja. Mulai dari sablon kertas, plastik, lalu kaos. Kalau cuma teori tak ada gunanya. Kalau sudah bisa sablon kartu nama yang hurufnya kecil-kecil, sablon apa saja pasti bisa,” kata pak Jakup.

Aku hendak mengangguk-anggukkan lagi helm yang kupakai, saat kedua mataku tiba-tiba melihat sebuah pemandangan menakjubkan terhampar di kejauhan: asap raksasa.

Pak Jakup, begitu menyadari kehadiran asap di kejauhan, juga terdengar tergetar. “Apa itu?” Tudingnya ke depan.

Pertanyaannya jelas ditujukan padaku. Tapi aku yakin dia tak menunggu, mengharap, atau menghirau jawab.

***

Seperti permulaan segala sesuatu, asap itu awalnya tampak kecil. Namun asap itu makin menggendut dan membumbung tanpa banyak buang waktu dan tanpa banyak cingcong. Perwujudannya yang raksasa jelas mengabarkan bencana.

Aku, pak Jakup, dan siapa pun yang melihatnya terpana. Tak sadar kupinggirkan kendaraan. Melihat tatap dan raut mukaku yang terpaku-pana pada sesuatu di kejauhan, para pengguna jalan yang melaju berlawan arah denganku ikut menoleh. Dan mereka pun melihat asap, yang tak mungkin muncul dari kobaran api yang tak besar.

Suasana pun jadi tak biasa. Orang-orang mulai ribut, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seorang pengendara motor menyalipku dengan kecepatan tinggi, seperti tergesa-gesa. Keadaan membuat aku, pak Jakup, dan semuanya saja menjelma menjadi satu kesatuan massa kecil yang terpana, yang tertegun, yang ingin tahu apa yang terjadi, yang bergairah menduga-duga.

Lalu seseorang, entah siapa, menghembuskan berita pada tiap telinga yang mampu menangkap getar suaranya, “Pasar terbakar!”

***

Motor kuparkir di halaman rumah warga sekitar dua ratusan meter dari pasar. Aku dan pak Jakup kemudian jalan berdesakan dengan orang-orang lain menuju pasar yang sedang berkobar.

Saat kami sampai, jalanan di sekitar pasar sudah ramai. Penuh sesak oleh orang. Kami kesulitan menerobos kerumunan. Untung pak Jakup sigap mencari jalan. Sikutnya bekerja mengayun ke kiri dan ke kanan.

Pasar kota terdiri dari sebuah bangunan kios berlantai dua yang melingkar kotak. Di tengahnya berjajar empat deret los yang memanjang berhadap-hadapan. Tiga ratus kios, tujuh ratus los. Tempat ribuan orang menyandarkan penghidupannya, menggantungkan kesehariannya.

Kini semua itu sedang dilalap api. Aku menyaksikannya sendiri. Api ada di semua sisi bangunan pasar, atau yang dulu, atau yang baru saja, merupakan bagian dari bangunan pasar. Lantai, tembok bata, tembok kayu, langit-langit kios, kolong los, atap genteng, atap seng, semuanya. Dan barang dagangan. Aneka macam barang dagangan.

Api seperti naga yang turun dari langit, tiba-tiba lapar, kepala dan perutnya bergoyang-goyang, mulutnya mencaplok pasar, buntutnya masih di awang-awang, bergelantungan, mengibas-kibas, mengeluarkan gumpalan asap raksasa yang kemudian berkumpul di atas sana membentuk awan kelabu.

Orang-orang hiruk pikuk. Para pemilik kios dan lapak dan los pasar, bersama kuli-kulinya dan kenalannya dan siapa saja, panik. Yang kiosnya di pinggir pasar tampak sibuk menyelamatkan barang-barang dagangannya. Sementara mereka yang lapaknya di dalam pasar tampak keluar-masuk api yang melalap pintu gerbang.

Published in: on February 16, 2012 at 8:48 am  Leave a Comment  

Khotbah Jum’at ini

Panjang lebar, khotbah Jum’at ini, seperti khotbah-khotbah Jum’at sebelumnya.

Padahal jika sang pengkhotbah hanya menyampaikan intinya saja, pasti akan lebih didengar dan direnungkan para pendengarnya.

Dan inti khotbahnya adalah ini: Tuhan senang pada mereka yang lelah bekerja.

Published in: on February 10, 2012 at 5:25 am  Leave a Comment  

Baca Puisi di Langgar

Barusan, di langgar kampung kami, ramai-ramai kami baca puisi indah sekali, memuji-muji mahluk indah sekali; sang nabi sendiri.

Kami duduk melingkar, lalu berdiri-diri, bertepuk tangan, menabuh gendang, menari-nari.

Beberapa sampai lupa diri. Berteriak-teriak, mengelu-elukan sang nabi.

Published in: on February 8, 2012 at 2:45 pm  Leave a Comment  

Paradigma

Dunia tampak cerlang-cemerlang setelah saya memakai kacamata minus dua.

Published in: on February 7, 2012 at 12:55 pm  Leave a Comment  

saya Mengundurkan Diri, Suka Tidak Suka

Saya diberi amanah konferensi untuk memimpin sebuah organisasi sosial di tingkat kabupaten kurang lebih setahun yang lalu. Masa khidmah amanah dua tahun. Tapi baru setahun jalan, saya merasa sudah tidak mampu.

Segala permasalahan sebaiknya cepat diselesaikan. Dan segala permasalahan, saya masih percaya, bisa diselesaikan di meja makan.

Tapi sudah telanjur banyak halangan psikologis. Saya mengundurkan diri.

Published in: on January 25, 2012 at 2:39 pm  Leave a Comment  

Demokrasi Tidak Menyembuhkan; Lihat Saja Timur Tengah!

Ahmad Qisa’i

Ada sebuah teori dalam ilmu politik yang mengatakan bahwa suatu (pemerintahan) demokrasi tidak akan pernah berperang melawan (pemerintahan) demokrasi yang lain. Konflik apapun yang muncul, selalu bisa mereka selesaikan dengan dialog dan saling memahami. Akan tetapi, sikap kontroversial Israel dan Barat khususnya Ameriaka baru-baru ini terhadap pemilihan umum demokratis yang dimenangkan Hammas di Palestina menimbulkan keragu-raguan atas kebenaran teori tersebut.

Di saat yang sama, berbeda dengan reaksi Israel dan pemerintahan Amerika yang memotong bantuan luar negeri mereka kepada Otoritas Palestina, beberapa pemerintahan di dunia Arab bersatu dan memutuskan untuk mendukung Palestina dengan mencarikan jalan guna mendapatkan dana yang dibutuhkan untuk membangun pemerintahan Palestina yang terpilih secara demokratis tersebut.

Israel dan Amerika telah lama dikenal sebagai kampium demokrasi. Pemerintahan kedua negara tersebut, dan sistem yang dipraktikkan mereka, sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Namun, sikap mereka terhadap hasil proses demokratis di Palestina telah menimbulkan keragu-raguan atas komitmen sebenarnya mereka terhadap demokrasi.

Segera setelah pengumuman bahwa Hammas, yang telah lama dicap sebagai kelompok teroris oleh Barat dan Israel, memenangkan secara mutlak pemilihan umum, pemerintahan Israel langsung menolak hasil pemilihan tersebut, dan memutuskan untuk memutus hubungan dengan Otoritas Palestina, mengacuhkan negosiasi apapun dengan Hammas. Di saat yang sama, Amerika menuntut para pemimpin Hammas untuk segera meninggalkan jalan kekerasan, atau menerima konsekuensi yang tidak menyenangkan bila mereka tidak mematuhi tuntutan tersebut.
Ancaman itu menjadi kenyataan saat Kabinet Israel, di bawah pimpinan PM Ehud Olmert, memutuskan untuk menahan pembayaran pajak impor yang ia kumpulkan atas nama Otoritas Palestina, sebesar kira-kira 50 miliar dollar AS per bulan, dan menghalangi para penduduk Tepi Barat dan Jalur Gaza memasuki Israel untuk bekerja.

AS, Israel, Iran dan Otoritas Palestina sama-sama menerapkan prinsip-prinsip demokrasi. Pemerintahan di ketiga negara tersebut dipilih melalui proses yang demokratis dan mendapatkan mandat dari rakyat. Jadi, berdasarkan teori tersebut di atas, maka tidak akan ada konflik di antara ketiga negara tersebut. Prinsip-prinsip demokrasi seharusnya menjadi tali yang mengikat mereka untuk bisa bekerja sama demi kemanusiaan, alih-alih saling bertempur satu sama lain.

Ada tiga alasan utama, mengapa demokrasi tidak bisa bekerja sebagai kekuatan bersama yang mampu meningkatkan kemanusiaan. Pertama, dan yang paling utama, alasan terjadinya konflik antara ketiga negara demokrasi tersebut adalah komposisi para pemilih di setiap negara. Kedua, usaha sia-sia Barat, terutama Amerika, untuk menegaskan dominasinya di atas dunia bagian selatan. Alasan ketiga adalah tidak adanya alternatif sekular, terpercaya dan egaliter, di mana rakyat bisa beralih.

Pemerintahan neo-konservatif Amerika, di bawah presiden Bush, bertekad untuk melaksanakan agendanya mendominasi dunia, berapapun ongkosnya.

Di Iran, di tengah-tengah kegagalan pemerintahan Khatami yang relatif moderat, Mahmoud Ahmadinejad bangkit di atas podium sebagai pemimpin Islam garis keras. Sama juga, Hammas adalah gerakan Islam militan yang tidak mengakui negara Israel dan bertekad menghancur-leburkan negara Yahudi tersebut.

Perbedaan komposisi para peserta pemilu di ketiga negara demokrasi tersebut menimbulkan komflik di antara mereka.

Kenyataan bahwa Amerika gagal dalam usahanya mendominasi lebih dan lebih negara bagian selatan seakan menyiram minyak ke bara api. Dengan ‘berpura-pura’ menjaga humanisme dari serangan terorisme, pemerintahan Amerika di bawah presiden Bush berusaha mengontrol politik internasional—dan gagal. Sikap bandel yang ditunjukkan Iran hanyalah reaksi lumrah dari sebuah komunitas yang tertekan.

Selanjutnya, alasan ketiga, tidak adanya alternatif sekular, bisa dipercaya dan egaliter dalam suatu masyarakat, membuat orang-orang beralih ke pilihan apapun yang ada—dan apa adanya. Di Amerika, pilihan itu adalah neo-konservatif. Di Israel, kelompok Yahudi garis keras mendapatkan angin segar, sementara di Iran dan Palestina, Islam diamini sebagai alternatif paling sesuai untuk mengobati penyakit-penyakit masyarakat.

Dengan propaganda “Benturan Peradaban” yang terus mendominasi kebijakan luar negeri si Polisi Dunia, mari kita tunggu pembalasan dari kelompok-kelompok yang tertekan.***

Penulis adalah kandidat Ph.D. di departemen Ilmu Politik, Aligarh Muslim University, Aligarh, India.
Sumber: The Jakarta Post, 8 Maret 2006. Dialihbahasakan oleh Mbell Gedhezz, penjaga warnet yang kesepian. Hiks..

Published in: on March 9, 2006 at 1:11 pm  Comments (1)  

Surat untuk Gus Mus

Assalamu Alaikum Wr. Wb. 

Semoga panjenengan sekeluarga selalu dalam lindungan Allah, dan selalu sehat wal afiat. Amin. 

Saat antum membaca surat saya ini, mungkin saya sudah selesai tempuh ujian term pertama (saya sekarang tingkat II, Alhamdulillah), tapi ketika saya menulis surat ini, ujian itu masih berjarak sebulan dari hari ini. Saya tetap meminta do’a antum, agar saya bisa menempuh ujian sebaik-baiknya. Saya tahu saya harus berusaha keras untuk itu, tapi hanya usaha saja, tidak bisa membuat hati saya tentram. Saya masih harus meminta do’a kepada orang-orang yang saya hormati, saya sayangi, selain berdo’a sendiri, untuk bisa merasa lega. 

Seorang santri, saya pikir, wajar untuk mengadu kepada kiainya. Dan dalam kesempatan ini, saya ingin mengadu kepada antum. Bukannya saya tidak ingat bahwa tempat mengadu seorang muslim adalah Allah Swt. Tapi saya sudah terus mengadu kepada-Nya, dan jawaban itu sangat samar, misterius, dan saya belum mampu menangkap maksud Allah. Semoga antum bisa menerjemahkan “maksud” Allah tersebut. Karena itulah, saya menulis surat kepada panjenengan. Semoga antum masih berkehendak menyisakan waktu untuk membaca dan kemudian membalas surat santri antum yang ndableg ini. 

Sudah satu tahun lebih, saya meninggalkan Indonesia. Setahun lebih, saya berusaha melupakan nikmatnya berkumpul dengan keluarga dan orang-orang lainnya yang saya sayangi dan menyayangi saya, untuk mengejar mimpi saya yang abadi: menuntut ilmu. 

Tapi dalam perjalanan menuntut ilmu tersebut, tidak sedikit batu karang menghadang. Kendala bahasa masih saja belum bisa saya atasi. Pergaulan hidup membimbangkan. Arus pemikiran yang sedemikian deras membingungkan dan membuat saya merasa berdiri di persimpangan jalan, dan butuh petunjuk untuk melanjutkan langkah kaki ke mana harus kubawa pergi. Jalan hidup berkelok rumit, Gus. Dan saya terdiam mlongo. Mencari-cari petunjuk, yang datang entah dari mana: dari langit atau dari bumi. Dari Allah atau dari nafsu diri saya sendiri. 

Gus, sebetulnya saya tidak interest masuk dunia pemikiran keagamaan (Islam). Saya merasa bukan seperti itu (berdebat, saling menyalahkan, tanpa ada usaha konkrit yang bisa diharapkan membawa umat Islam bersatu) jalan yang ditempuh para nabi. Saya kecewa dengan kyai Masduqi, misalnya, karena satu hal: intoleran dalam menyikapi masalah kecenderungan cara beragama saya. Saya sangat berterima kasih kepada beliau, karena telah membimbing saya untuk rajin berdo’a, rajin sembahyang berjamaah, dan rajin mendaras Qur’an. Tapi mengapa pernyataan “Kalau ingin membela agamamu, ya belalah NU” harus keluar dari beliau? Saya tidak habis pikir. Tapi kekecewaan saya terlunasi oleh hutang budi saya kepada beliau. Bahkan hutang budi saya lebih banyak daripada rasa kecewa saya yang hanya secuil. 

Lalu, di sini, saya menjumpai begitu kayanya peradaban Islam-Arab dengan literatur yang wow. Saya sering jalan-jalan ke Azbakiyyah, sekadar memandangi toko buku loak yang menawarkan bermacam-macam judul buku itu. Rasanya sangat tidak menyenangkan, membuat kepala pusing, hati sedih, melihat buku bertumpuk-tumpuk, sedang saya tidak bisa membaca satu pun dari buku-buku tersebut. Untuk menghibur diri, beberapa kali saya membeli dua-tiga buku, tapi buku berbahasa Inggris. 

Saya merasa berada di persimpangan jalan, Gus. Saya suka menulis, dan sudah beberapa tahun saya menulis cerita pendek. Tapi belum tuntas saya menyelami sastra, arus pemikiran keagamaan Islam menarik perhatian saya, dan menulislah saya beberapa artikel. Juga tidak sampai tuntas, lagi-lagi ada hal baru lain yang menarik perhatian: jurnalisme. Banyak hal yang bisa diketahui oleh seorang jurnalis, yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Itu yang menarik. Akhirnya saya suka mencari-cari informasi. Apalagi di sini ongkos internet murah. 

Mengapa saya merasa berada di persimpangan jalan? Hobbi saya menulis, tidak bisa bertemu dengan kewajiban saya belajar, menuntut ilmu (formal). Ini membuat saya bingung, sering menimbulkan perasaan kuatir yang berlebihan, dan mendatangkan rasa lemah yang tidak menyenangkan. Ujian term pertama ini ada enam materi: mantiq qodim, nudhum Islamiyyah, tayyarot al-fikr al-mu’ashir, ulum hadist, fiqh, lughoh aurubiyyah (English). Kegiatan menulis saya terganggu dengan persiapan ujian yang menguras seluruh perhatian dan tenaga. Juga sebaliknya, persiapan ujian mengganggu kegiatan saya menulis—yang merupakan hobbi saya. 

Bagaimana ini? Saya belum menemukan formula mujarab untuk mengatasi masalah ini, Gus. Saya terus mengadu kepada Allah, dan saya berharap, Antum bersedia menerjemahkan jawaban Allah untuk pengaduan saya tersebut—karena jawaban dari Allah sangat samar, misterius, dan saya belum mampu membacanya. 

Sekian. 

Salam untuk dik Ova: “Djon, matur nuwun bantuane, yo! Mengko kapan-kapan aku butuh bantuanmu maneh, kowe siap tak jaluki bantuan, yoh! Huehue… Opo? Honor? Mengko nek aku muleh tak traktir ngopi sampek teler. Hehuehue…” 

Mohon maaf kalau dalam surat ini ada banyak hal yang tidak berkenan di hati panjenengan, Gus.

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Kairo, 1 Desember, 2005
 

Hormat kawulo,
Nadhief Shidqi
nadhiefs@yahoo.com

Published in: on February 28, 2006 at 11:40 am  Leave a Comment  

Dan Dia Pun Jatuh Sakit

Seberapa kuat aku berjalan? Pada kenyataannya, aku sudah tidak lagi memedulikan rasa lelah. Hidup melelahkan, mungkin. Tapi merasakan lelah itu sendiri lebih melelahkan. Sungguh; aku tidak mengada-ada. Mungkin karena aku sudah terbiasa lelah, hingga tak lagi tahu bagaimana rasanya lelah. Saat kau sudah terbiasa melihat Piramid, maka keindahannya takkan lagi mengagumkan. Atau, apakah segala sesuatu hanya terasa di awal saja? “Bagaimana rasanya orang merdeka?” tanyaku pada bintang.Seberapa kuat dia mendampingiku? Alamak, hari ini dia sakit. Siapa sekarang yang bingung? 

Malam itu aku memang kurang perhitungan. Salah perhitungan. Semua orang dihitung sama. Semua orang dihitung kuat jalan kaki dari sini ke sana. Padahal tidak semua. Aduh, gadis mungilku. Terbaring sakit kau sekarang. Dan, siapa yang merasakan sakitnya? Apa hanya kau saja yang merasakannya? Tanyalah pada Tuhan. 

Maka, maafkan aku, Gadis kecilku. 

Dan, apa hari ini kau sudah makan? Ayolah, F. Tubuhmu itu butuh tenaga. Dan tenaga hanya bisa kaudapatkan dari makanan. Dan minuman. Kalau lambungmu menolak diisi, paksa. Juga kau harus minum obat. Kalau besok kau belum sembuh, kita ke pak Mustafid. Dia dokter yang baik. 

Istirahat yang cukup. Jangan kurang, dan jangan lebih. Yang cukup. 

Dan, maafkan aku, Gadis kecilku. Maafkan aku. 

*** 

Hari ini mengurus visa, yang sudah mati empat bulan lewat. Mesir memang menjengkelkan. Kebudayaannya, kata seorang kawan, lumpuh total. Pemegang otoritas imigrasi Mesir seperti tidak pernah berpikir walau sejam. Aku saja cuma butuh waktu lima menit untuk bisa mengambil kesimpulan bahwa sistem pengurusan visa di sini sama sekali tidak baik dan teramat tradisional (dengan konotasi buruknya), karenanya harus diubah. Tapi, seperti yang bisa diduga: telinga mendengar, mata melihat, otak bekerja, hati batu.
 

Published in: on February 28, 2006 at 11:06 am  Leave a Comment  

Seberapa Kuat

Seberapa kuat aku berjalan? Seberapa jauh dia mampu mendampingi? Itu yang aku jajal ketahui malam itu. Selesai acara di Wisma, kuajak dia. “Kita pulang jalan kaki. Cuma gami. Deket.” Padahal jauh. 

Suka tidak suka, F. menurut. Aku senang dia menurut. Dan karena aku sedang senang, aku cenderung berasumsi F. menerima ajakanku dengan suka rela. Mungkin sebenarnya dia tidak suka “jalan bareng” dengan saya. Apalagi saat itu di halte banyak kawan-kawan Indonesia; dan dia pemalu. Tapi dia sempat misscall saya dua kali saat saya tinggal ke kantin. 

Dan sepanjang jalan, kami saling bercerita. Bergiliran. Aku, lalu dia. Dia, lalu aku. Ada cerita sedih, banyak cerita bahagia; sambil terus berjalan kaki, menempuh jarak—jarak yang tak terasa. 

Seberapa kuat aku berjalan? Aku rasa, makin jauh jarak tertempuh, makin besar rasa sayangku padanya, pada F. Mungkin jarak perjalanan imajiku lebih panjang daripada jarak yang ditempuh kedua kaki; aku bisa merasakannya—dunia hanya milikku dan miliknya. Hahaha… “Banyak paradok dalam hidup ini, Kamerad!” kata Goenawan suatu saat. 

Kukatakan yang sejujurnya saja: saya tidak tahu isi hati F. Saya tidak tahu apa-apa tentang perasaannya. Saya buta aksara hati. Cukup. Dan saya tidak ingin berspekulasi tentang perasaannya dengan mengambil dasar dari sikap-gerak-gerik-perkataannya padaku. Tubuh bisa goyah. Mulut tak punya tulang. Lidah terlalu panjang. Tidak ada yang bisa dipegang, sebetulnya. Jadi, masalah perasaan biar tinggal jadi misteri. Menikmati suatu misteri bukan tidak nyaman. 

Seberapa kuat aku berjalan? Aku rasa aku masih bisa melanjutkan jalan kaki sampai ke distrik sepuluh. Tapi aku lihat F. terlalu kecil dan rapuh. Bunga selalu rapuh, Kamerad. Dan aku tidak merasa nyaman melihat hal itu. Sampai di distrik tujuh, kutawari dia minum nektar mangga. Dia tidak pernah menolak, Tuhan! Tidak, aku tidak ge-er. Sumpah. 

Menggoda F. sungguh menyenangkan. Dengan itu aku bisa sedikit-sedikit menggali lebih dalam pedalaman dirinya, yang tampak menyembunyikan semacam luka yang belum sembuh. Kalau aku bisa, tanpa kau minta aku akan berusaha menyembuhkan lukamu itu, F.! Sumpah pocong! 

Dan F. punya prinsip. Sesuatu semacam prinsip. Aku tahu itu. Aku bisa merasakannya. Aku bisa membacanya, dari entah apa. Dan aku sangat bersyukur pada Tuhan. 

“Kak, aku punya masalah dengan kawanku,” kata F. pelan—bicaranya selalu pelan. Dan aku mendengarkan dia melanjutkan kisahnya. Kukatakan padanya, “Kau tidak salah, F. Tapi kau sudah dewasa, dan akan selalu bersikap dewasa. Kurasa tidak ada buruknya kau yang lebih dulu minta maaf pada kawanmu itu.” Dan balas F., “Amit-amit Za minta maaf ke dia!” 

Tidak, nyatanya aku tidak kaget mendengar intonasi dan nada yang tinggi dari perkataan F. Setiap batu menyimpan beratnya sendiri. Setiap manusia punya tenaga potensialnya sendiri. F. bisa melakukan apa saja, itu aku tahu. Kesempatan setiap manusia sama—jangan debat aku dalam hal ini. Ini bukan soal logika. Ini soal keyakinan, Bedepret! 

Menggoda F. sungguh menyenangkan. Dan perjalanan sejam jadi tak terasa. Sampai distrik tujuh, rasa sayangku mengatakan padaku untuk menghentikan “penjajalan” ini. Cukup sampai di sini. F. terlalu rapuh. Dia belum terbiasa hidup di rimba. Dia anak istana kayangan sana. Dia peri, bukan semut mungil. Ya sudah. Aku cukup senang. Hei, sangat senang! 

Dan sampai di distrik sepuluh, setelah naik bus dari distrik tujuh, sakit perutnya kumat. Waduh, Mak. Maag. Bekas jahitan operasi. Dia belum terbiasa hidup ala tarsan macam aku ini. Dan aku tidak berniat membiasakan dia untuk itu. Tidak. Aku harus kaya. Aku harus bisa hidup dengan punya sendiri. Agar lampu tetap menjadi lampu. Agar bunga tetap jadilah bunga.

Published in: on February 24, 2006 at 2:44 pm  Leave a Comment  

Sepakbola dan Hidup

Saya tidak suka sepakbola, dan mungkin karenanya, saya tidak bisa menendang bola dengan baik. Bagi saya, sepakbola tidaklah penting—sebagaimana banyak hal yang lainnya. Dalam hidup, orang memang harus memilah mana yang penting mana yang percuma; itu hak setiap orang.

Tapi sore ini, saya bersedia meluangkan waktu bersama kawan-kawan menonton pertandingan sepakbola Fosgama lawan Gamajatim. Dua klub kekeluargaan yang tidak istimewa. Dan saya tidak bisa menikmati jalannya pertandingan—kata kawan-kawan, Fosgama bermain cantik, dan Gamajatim cenderung mengalah. Saya tidak tahu hal itu. Tapi saya senang. Saya merasa nyaman, berteriak-teriak saat suasana tegang, bertepuk tangan saat riuh gawang koyak; merasa kuatir saat Fosgama diserang. 

Saya bukan pesepakbola. Tapi sore ini saya berada di antara para penonton di pinggir lapangan. 

Saya tidak tahu seluk beluk sepakbola. Tapi seratus persen saya yakin bahwa sepakbola bukanlah murni urusan olah raga. Apakah si penjaga tiket seorang olahragawan? Tidak. Siapa penyedia hotel tempat menginap para penonton piala dunia, apa mereka dari kaum olahragawan? 

Hidup ini seperti jaring laba-laba; semua memiliki sangkut pautnya dengan yang lain. Sepakbola di sore itu adalah contoh depan mata. Saya mengamini F. Capra. 

Dan suasana sore hari ini sangat menyenangkan; di ujung musim dingin, matahari bersinar hangat, angin membelai sejuk. Jaket sesekali saya lepas. Tubuh aku leyeh. Duduk dipojok atas tribun, dan mulai menerawang. 

Hidup itu aneh, karena ia tidak tunduk pada satu rumus pasti. Hampir semua meleset. Padahal, semua tentang manusia terangkum dalam hidup. Dan kalau rangkuman itu tidak tunduk pada rumus pasti, bagaimana dengan isi rangkuman?  Orang-orang kini cenderung memisahkan teori dan praktik. Gejala jaman. Semua akan tunduk pada kekacauan. Seperti gerak bola yang ditendang para pemain sore ini… struktur permukaan lapangan pun ikut bermain, arah angin perlu diperhitungkan, emosi per pemain harus diperhatikan, blablabla… 

Kekacauan, chaos, mungkin masih lama akan terjadi. Tapi kita bisa mempercepat kedatangannya.  Kekacauan, mungkin sekarang masih menjilma keterpautan. Ya, ya, keterpautan, itu istilah yang tepat, karena segala sisi suatu peristiwa tak boleh diabaikan. Seperti sepakbola di sore yang hangat ini…

Published in: on February 22, 2006 at 8:07 pm  Leave a Comment  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.